
BAGIAN 1
PRA-SITU DAN AKAR-AKARNYA
(PERANG DUNIA II — 1957)
Situationist International (SI) dibentuk pertama kali pada tahun 1957 di
pedesaan Italia bernama Cosio d’Arroscia yang merupakan sebuah
peleburan dari grup avant-garde ‘International Movement for an Imaginit
Bauhaus’ (IMIB), Lettrist International (LI) dan London
Psychogeographical Association. Organisasi tersebut hidup dan berjalan
selama 15 tahun hingga berakhir di Paris pada tahun 1972; bergerak dari
bidang seni radikal yang merupakan bidang tempat mereka bermula, hingga
pada politik revolusioner yang sama sekali tidak mengalienasi.
Dalam pembentukan awalnya, SI memiliki akar yang kuat baik secara
literer ataupun artistik, pada tradisi avant-garde yang apabila ditarik
ke belakang merunut pada ideologi yang dianut Dada dan Surrealisme.
Tradisi ini dibawa ke dalam organisasi tersebut melalui Asger Jorn dan
Constant. Dua orang anggota terkemuka dari The International of
Experimental Artist, yang kemudian dikenal sebagai COBRA dan juga
merupakan anggota IMIB—salah satu grup yang membentuk SI.
COPENHAGEN BRUSSEL AMSTERDAM (COBRA)
COBRA, atau lebih dikenal dengan The International of Experimental
Artist, adalah sebuah grup avant-garde yang berisi penulis, arsitek dan
pelukis dari Belgia, Belanda dan Denmark. Grup ini dibentuk tahun 1949,
saat anggota-anggota Revolutionary Surrealist Group, Host dan Die
Experimentele Groep dari Belanda bertemu dalam sebuah kongres seni di
Paris. Grup-grup yang disebutkan terakhir tadi dibentuk begitu Perang
Dunia II berakhir, yang mengalami masa stagnansinya setelah Surrealisme
meraih sukses komersil dan mendapatkan pukulan telaknya dalam masa
perang.
Belgian Surrealist Group (Grup Surrealis Belgia), yang dipimpin oleh
Christian Dotremont, adalah sebuah faksi pecahan dari kelompok
tandingannya di Perancis. Perpecahan ini muncul setelah tahun 1945 saat
Andre Breton, tokoh kunci Surrealist Group, kembali dari pengungsiannya
selama perang di Amerika Serikat. Breton yang memulai perpecahan itu,
berkeinginan untuk memfokuskan aktifitas grup seniman tersebut lebih
pada mistikisme, dan melupakan militansi politis yang selama ini melekat
pada setiap aktifitas grup. Ia memutuskan untuk keluar dari Partai
Komunis dan berharap semua orang mengikuti langkahnya (Surrealist dan
Partai Komunis semenjak dari awal telah memiliki ikatan yang kuat).
Sementara Breton mengungsi ke Amerika Serikat selama perang berlangsung,
Dotremont dan anggota-anggota Surrealist Group tetap tinggal di Eropa
dan mengambil bagian aktif dalam semua aktifitas melawan Nazi. Mereka
bahkan juga membentuk Revolutionary Surrealist Group yang bermarkas di
Brussel.
Sementara grup Host adalah kelompok pelukis, penulis dan arsitek yang
terbentuk di seputar majalah Helhesten yang aktif antara tahun 1941 dan
1944.
Die Experimentele Groep di Belanda juga merupakan kelompok yang serupa,
anggotanya adalah para pelukis, penulis dan arsitek. Mereka
mempublikasikan majalah bertitel ‘Reflex’ yang penuh berisi teks-teks
dan puisi.
Tahun 1948, beberapa delegasi dari ketiga grup tersebut bertemu saat
berpartisipasi dalam sebuah konferensi bertajuk International Centre For
The Documentation Of Avant-Garde Art di Paris. Para delegasi ketiga
grup tersebut adalah mereka yang kecewa dalam tingkat diskusi yang
berlangsung di sana, yang dengan segera mempublikasikan pernyataan
oposisional mereka:
Satu-satunya alasan yang ada dalam aktifitas internasional kami adalah
kolaborasi yang organik dan eksperimental, yang jelas menghindari
kesakralan teori dan dogmatisme.
Dalam pernyataan tersebut mereka telah mulai membuat dasar bagi platform
atas kolaborasi ketiga grup. Sebagian platform tersebut didefinisikan
lebih lanjut dalam sebuah manifesto yang hadir beberapa saat kemudian di
salah satu edisi majalah ‘Reflex’ sebagai berikut:
Keterputusan kultur klasik Barat adalah sebuah fenomena yang hanya dapat dipahami dengan cara mengkontraskannya pada sebuah evolusi sosial yang dapat berakhir dengan keruntuhan total sebuah prinsip masyarakat yang telah bertahun-tahun dikenal, untuk digantikan dengan sebuah sistem yang mana hukum-hukumnya didasarkan pada tuntutan langsung dari vitalitas manusia [...].
Kolaborasi dari ketiga grup tersebut menghasilkan sebuah majalah yang
berbentuk sebuah forum di mana praktek dan ide-ide mereka dipertukarkan
sekaligus diperdebatkan. Majalah tersebut dinamai COBRA (dari inisial
kota-kota Copenhagen, Brussel, Amsterdam). Berbagai eksibisi dan event
mulai direncakan serta dihadirkan. Sang Belgia Dotremont, Constant dari
Belanda dan Asger Jorn dari Denmark adalah tiga tokoh kunci dari grup
tersebut yang muncul secara alamiah dari aktifitas-aktifitas para
pelukis, arsitek, penulis, penyair dan teoris-teoris di seputaran grup
tersebut.
Mereka semua menolak baik seni realisme maupun seni abstrak, dan memilih
sebuah bentuk ekspresi langsung yang cenderung primitif, yang
dikembangkan melalui berbagai eksperimentasi. Secara politis, dalam
melakukan semua aktifitas tersebut jelas mulai beroposisi dengan Partai
Komunis yang hanya mendukung satu jenis seni: realisme sosial. Mengambil
jarak semakin jauh dari Surrealisme dengan mengkritisi fokus gerakan
tersebut yang hanya berputar di sekitar alam ketidaksadaran dan psikis.
Di saat yang sama, mereka juga membawa ke muka sebuah ide tentang
pembentukan lingkungan urban yang baru, sesuatu yang lebih ‘irasional’,
yang jelas membawa mereka bertentangan dengan rasionalisme LeCorbusier.
Constant kemudian mengambil dan mengembangkan konsep ini ke dalam
Situationist International, yang mana teori tersebut semakin berkembang
di bawah nama Urbanisme Unitarian.
COBRA membubarkan diri pada tahun 1951 setelah selama terbentuknya
selalu ditolak oleh ideologi seni yang telah mapan—walaupun toh tujuh
tahun kemudian para anggota COBRA (Jorn, Constant dan Appel) meraih
sukses komersial sehingga mendadak seluruh ide-ide mereka ‘diketemukan’
dan ‘dicanangkan’ sebagai sebuah gerakan avant-garde yang paling
penting.
Jorn dan Constant, yang kemudian menjadi anggota SI yang saat itu baru
terbentuk, menulis tentang rekuperasi atas COBRA sebagai berikut:
Di tahun 1958, beberapa konspirasi berusaha untuk meluncurkan sebuah gerakan avant-garde ‘baru’, hal yang sama telah ditolak 7 tahun sebelumnya. [...] Grup-grup dalam gerakan COBRA telah setuju untuk memproklamirkan sebuah riset eksperimental tentang kultur. Tetapi intensi positif ini, yang diguncang oleh kebingungan ideologis, dijaga agar tetap hidup oleh sebuah komponen yang kuat dari neo-Surrealist. Maka satu-satunya yang berhasil dicapai oleh COBRA adalah kreasi sebuah gaya melukis yang baru.
GERAKAN LETTRIST DAN LETTRIST INTERNATIONAL (LI)
Selama berlangsungnya Perang Dunia II, Isidore Isou, seorang penyair
muda Romania, mengelaborasikan teori yang ia kembangkan ke dalam bentuk
puisi. Merunut pada puisi ini, seperti juga semua seni melalui dua fase
dialektis, fase ekspansi dan fase pemahatan. Setelah para Dadais
‘menghancurkan’ kata-kata, puisi kini telah mencapai fase pemahatan
akhirnya. Peran Isou dalam hal ini adalah melengkapi fase tersebut
dengan menghancurkan huruf, dan menginisiasikan sebuah periode ekspansi
yang baru.
Saat waktunya dirasa tepat, ia pergi ke Paris, ibukota kultur Barat,
untuk memproklamirkan penemuan besarnya pada dunia. Hasilnya sangat
mengecewakan, karena nyaris tak seorangpun peduli pada penemuannya
tersebut. Tetapi bukannya mundur, Isou yang egosentris malahan
mempersenjatai dirinya dengan dua cara yang dapat membuat suaranya
didengar: melalui skandal dan mengumpulkan pengikut.
Gerakan Lettris dengan demikian mulai lahir. Nama mereka meroket melalui
berbagai skandal seperti publikasi dan distribusi masif sebuah pamflet
berjudul ‘Kediktatoran Lettrist’ (mungkin tidak terdengar menarik saat
ini, tetapi bayangkan saat ini terjadi adalah Paris tahun 1946, hanya
setahun setelah Jerman menduduki kota tersebut), juga melalui sebuah
interupsi mendadak di tengah pembacaan puisi Tristan Tzara dan yang
paling berhasil adalah pembacaan pamflet ‘Tuhan Telah Mati’ di sebuah
misa di Notre Dame (para perusuh tersebut berpakaian seperti pendeta,
dan mereka tidak selesai saat melakukan pembacaan karena seorang penjaga
berusaha membunuh mereka).
Atas skandal-skandal yang ditimbulkannya, sekelompok pemuda usia 20-an
banyak berkumpul di sekitar Isou dan kafe-kafe di Left Bank tempat para
Lettrist biasa berkumpul. Guy-Ernest Debord bergabung dengan kelompok
ini pada tahun 1950 bertepatan setelah upaya yang dilancarkan para
Lettrist untuk mengacaukan Festival Film Cannes. Mereka memproduksi
puisi bunyi Lettrist, lukisan Lettrist yang menjadikan huruf sebagai
subyeknya, beserta beberapa film Lettrist.
Tahun 1951, film Isou yang bertajuk The Drivel dan Eternity Treatise
justru memenangkan penghargaan Avant-Garde Award dalam Festival Film
Cannes. Padahal film tersebut bertujuan untuk menyiratkan sebuah akhir
dari fase pemahatan dalam dunia perfilman, yang mana sebagian film
tersebut digores, dicabik sementara sebagian isinya benar-benar kosong.
Debord juga mengambil tema yang sama beberapa tahun ke depan dengan film
kosongnya yang bertajuk Howling in favor of the Sade.
Berkaitan dengan perkembangan para situasionis selanjutnya, sebuah poin
menarik dari teori-teori Isou adalah analisanya atas anak muda sebagai
sebuah kelas sosial. Ia melihat bahwa kelas ini tereksploitasi dan tak
terepresentasikan, tetapi karena kelas tersebut tidak terikat oleh
hal-hal semacam keluarga dan kerja, anak muda disituasikan untuk berada
di luar pasar dan relatif bebas dari kekuatan-kekuatan kapitalis yang
mengontrol baik pasar maupun orang-orang yang berada di dalamnya. Isou
sangat berjasa sebagai orang yang pertama kali melihat potensi
revolusioner dari ‘kelas’ ini. Tahun 1950-an memperlihatkan tanda-tanda
pertama dari kemarahan yang datang dari kaum muda, dengan beberapa
gerakan seperti ‘the Angry Young Men’ di Inggris dan ‘Les Blouson Noir’
di Perancis.
Tahun 1952 Debord dan beberapa lainnya memisahkan diri dari gerakan Isou
dan membentuk Lettriste International (LI). Perbedaan yang ada
sebenarnya telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Momen yang menandai
pemisahan diri tersebut adalah demonstrasi yang diinisiasikan oleh
Debord dan beberapa lainnya untuk melawan konferensi pers Charlie
Chaplin di Paris, sebuah aksi yang dikutuk oleh Isou.
Selama 5 tahun eksistensinya, LI tetap menjadi sebuah grup yang relatif
kecil dan tidak dikenal. Majalahnya yang bertitel ‘Potlach’
didistribusikan cuma-cuma. Nomor perdananya dicetak sebanyak 50
eksemplar sementara nomor terakhirnya mencapai 500 eksemplar. Mereka
mendedikasikan diri mereka untuk secara serius mempelajari permasalahan
waktu luang, kebanyakan melalui eksperimentasi praktik tentu saja.
Pengorganisiran waktu luang—pengorganisiran kebebasan keberagaman yang
tidak terlalu dikendalikan oleh kesinambungan kerja—adalah sebuah
kebutuhan bagi negara-negara kapitalis sebagaimana juga bagi para
penerus Marxis. Di manapun juga seseorang dibatasi oleh degradasi
berbagai stadium program televisi. [...] kami berusaha secara serius
untuk mendedikasikan diri kami hanya pada waktu luang [...] Konstruksi
berbagai situasi akan menjadi realisasi yang berkesinambungan dari
sebuah permainan besar, sebuah permainan di mana para pemainnya telah
dipilih untuk memainkannya.
LI menerapkan arsitektural dan teori-teori perilaku dalam ‘praktik
eksperimental’ mereka, sesuatu yang juga telah digarisbawahi oleh
gerakan Lettrist. Hal-hal tersebut membawa mereka untuk mengembangkan
konsep Unitary Urbanism (Urbanisme Uniter) dan bidang studi mereka
adalah Psikogeografi. Poin awal mereka adalah ide bahwa arsitektur
mempengaruhi kehidupan orang-orang yang hidup di dalamnya jauh lebih
besar daripada yang biasa diperkirakan. Sebuah kritik terhadap
arsitektur dengan demikian membuka sebuah jalan untuk mengkritisi hidup
secara keseluruhannya.
Tahun 1953, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Ivan Chtcheglov
menulis sebuah esai bertitel ‘Formulasi bagi Urbanisme Baru’ (pertama
kali dipublikasikan 5 tahun kemudian dalam nomor perdana Internationale
Situationiste) yang merupakan sebuah tulisan pendek penuh gairah untuk
segera ‘mempersenjatai’ konsep baru tentang urbanisme, yang diawali
dengan tulisan berikut:
"Tuan yang terhormat, aku datang dari negeri lain. Kami bosan di kota, (karena) tak ada lagi Kuil Matahari."
Kalimat tersebut menjadi pembuka jalan bagi psikogeografi. Chtchelglov mengkritik kota-kota modern yang
...tak memiliki musik dan geografi. Imajinasi-imajinasi kami tetap berada jauh dari mesin-mesin duniawi. (Maka) hacienda, dan kota baru harus dibangun.
Ia terus mendeskripsikan visinya, yang merupakan hasil atas gambaran
masa depan arsitektur baru yang mana seseorang akan harus mempelajari
berbagai eksperimentasi pola perilaku, desainernya secara bersamaan juga
harus mengkonstruksi berbagai situasi. Idealnya, kota tersebut akan
menjadi kota yang dapat dimodifikasi.
Yang mana bangunan-bangunannya dinyalakan oleh kekuatan yang mampu
membawa kembali kenangan dan imajinasi, struktur-struktur simbolisnya
merepresentasikan berbagai hasrat, setiap orang akan hidup dalam
katedral personalnya, begitu juga saat mereka berbicara. Distrik-distrik
kota ini akan saling berkorespondensi dengan seluruh spektrum atas
berbagai perasaan yang berbeda-beda yang bisa seseorang dapatkan melalui
adanya berbagai kesempatan dalam hidup keseharian.
LI mencanangkan formulasi dari Chtcheglov, khususnya dalam
tikungan-tikungan eksperimentasi yang disebut psikogeografi. Tahun 1955
Debord menulis sebuah esai bertitel ‘Introduksi pada sebuah Kritik atas
Geografi Urban’ yang dalam berbagai sisi merupakan sebuah pengembangan
dari ide Chtcheglov.
Psikogeografi dapat membangun dirinya sendiri dalam studi mengenai
hukum-hukum dan efek-efek yang spesifik atas lingkungan geografis, baik
yang terorganisir secara sadar atau tidak, tentang emosi-emosi dan
perilaku seorang individu.
Peta psikogeografis mengekspresikan insubordinat yang lengkap yang
mempengaruhi kebiasaan diujicobakan. Kota dan berbagai pengaruhnya atas
mood para penghuninya dieksplorasi melalui derive, atau berjalan kaki
dalam rute-rute memutar yang sistematis, dan permainan psikogeografis
diujicobakan dengan menjelajahi sebuah kota tetapi dengan cara mengikuti
alur peta kota lain. Riset ini akan diakhiri dengan penciptaan sebuah
suasana baru yang mengarah pada cara hidup yang baru dan lebih
menyenangkan.
Teori lain yang juga dikembangkan dalam tahun-tahun tersebut adalah
teori Detournement, yang pertama kali digarisbawahi dalam esai karya
Debord dan Gil J. Wolman bertitel Metoda-Metoda Detournement. Mereka
berangkat dari poin bahwa:
Fase perang sipil yang kami canangkan melalui seni dan kreasi harus
melayani kepentingan-kepentingan para partisannya dan dengan demikian
maka sangat penting untuk mengakhirinya dengan penciptaan nilai-nilai
baru atas kepemilikan personal di area-area tersebut. Detournement
adalah sebuah penjarahan cuma-cuma dan adaptasi bagi kreasi-kreasi lain.
Detournement adalah penggantian konteks.
Hal tersebut dilakukan tanpa menjelaskan bahwa tak ada batas dalam
mengkoreksi sebuah hasil kerja atau untuk mengintegrasikan berbagai
fragmen yang terpisah dari hasil-hasil kerja yang kuno ke dalam sebuah
hasil kerja baru; seseorang juga dapat mentransformasikan makna berbagai
fragmen tersebut dalam cara yang dianggap perlu, meninggalkan para
imbesil yang terus memelihara “kutipan-kutipan” yang memperbudak.
Tahun 1957 LI menggabungkan diri bersama International Movement for an
Imaginist Bauhaus (IMIB) ke dalam bentuk Situationist International
(SI).
THE INTERNATIONAL MOVEMENT FOR AN IMAGINIST BAUHAUS (IMIB)
Pasca bubarnya COBRA, Asgern Jorn meneruskan aktifitasnya sebagai
seorang ‘seniman eksperimental’, organisator gila dan pembangun kontak.
Dalam perioda tersebut ia bertemu dengan seorang pelukis sekaligus
pelopor Nuclear Art Movement bernama Enrico Baj. Mirip dengan COBRA,
para seniman nuklir tersebut melawan seni abstrak maupun realis serta
yakin bahwa eksperimentasi adalah satu-satunya cara untuk membawa
pembaharuan-pembaharuan di bidang seni lukis.
Jorn juga membangun kontak dengan Max Bill, seorang arsitek Swiss yang
sedang bekerja untuk proyek New Bauhaus. Berdua, mereka mengeksplorasi
lahan-lahan yang mungkin dibangun untuk kolaborasi, tetapi dengan segera
Jorn kecewa dengan rasionalisme Bill. Ia menuduhnya sebagai seorang
yang hanya menginginkan sebuah akademi tanpa lukisan, tanpa riset
imajinatif, fantasi, tanda dan simbol. Dalam sebuah suratnya kepada
Enrico Baj, Jorn menegaskan intensinya untuk membentuk International
Movement for an Imaginist Bauhaus (IMIB). Baj bergabung dengan grup yang
baru terbentuk tersebut, juga mantan seniman COBRA seperti Christian
Dotremont dan Appel. Dalam tahun ini juga, Jorn pindah ke kota pinggir
laut di Italia, Albisola.
Selama pelaksanaan festival lokal di tahun 1954, Jorn bertemu dengan
pelukis politis, Giuseppe Pinot-Gallizio dan seorang mahasiswa filsafat,
Piero Simondo. Kedua orang tersebut sangat tertarik dengan intensi dan
ide-ide IMIB. Setahun kemudian, studio Gallizio yang terletak di kota
lembah yang penuh kebun anggur, Alba, menjadi Laboratorium Eksperimental
IMIB. Semua orang bekerja dan bereksperimentasi dengan sesamanya dalam
disiplin pelukisan, arsitektur dan musik. Sementara itu, Jorn terus
secara aktif membangun kontak dengan gerakan-gerakan avant-garde Eropa
Barat, yang antara lain juga grup LI di Perancis.
Bulan September 1956, Jorn dan Gallizio mengorganisir even “Kongres
Dunia Pertama dari Seniman-Seniman yang Terbebaskan”. Gil J. Wolman
hadir untuk merepresentasikan LI. Atas pengaruh dan argumen-argumen yang
diajukannya, Baj diusir di hari pertama pertemuan.
Kongres tersebut menghasilkan sebuah resolusi yang ditandatangani oleh
semua peserta, mendeklarasikan sebuah, “kebutuhan untuk sebuah
konstruksi integral dalam lingkungan melalui sebuah urbanisme uniter
yang harus menggunakan seluruh seni dan teknik modern,” serta “memahami
saling ketergantungan esensial antara urbanisme uniter dan gaya hidup
masa depan.”
Sebuah eksibisi dari hasil-hasil kerja dalam Laboratorium Eksperimental
IMIB yang juga memamerkan “Keramik-Keramik Futuris 1925—1933”
diorganisir bersamaan dengan diselenggarakannya kongres.
Constant tinggal di Alba pasca kongres untuk meneruskan studinya tentang
urbanisme dan ruang. Ia merencanakan sebuah konstruksi bergerak bagi
beberapa kamp gypsi yang berada di tanah milik Gallizio. Menggunakan
tembok-tembok terpisah yang dapat dibongkar-pasang, eksperimentasi ini
juga lantas digunakan untuk model kota baru yang berdasarkan pada
prinsip kepemilikan umum, dinamis dan kemungkinan-kemungkinan modifikasi
berkesinambungan dari lingkungan hidup urban.
Sementara itu, Gallizio mengerjakan ‘Lukisan Industrial’. Nama yang
digunakan tersebut tidak dipilih atas teknik produksi lukisan-lukisan
tersebut. Semua lukisan tersebut dibuat dengan menggunakan tangan, untuk
kemudian dieksperimentasikan oleh Gallizio dengan menggunakan berbagai
material seperti lem, cat, wax, assiline, pasir, karbon dan apapun yang
dianggap mungkin olehnya. Terminologi ‘Industrial’ tersebut dipilih atas
kuantitas produksi kerjanya. Gallizio, atas subsidi dari anak
lelakinya, Jors Melanotte, ‘mengecat’ gulungan kanvas sepanjang 70
hingga 90 meter dan menjualnya per meter, menggunakannya untuk membuat
pakaian, layar pemisah dan arsitektur bergerak. Ide tersebut diajukan
untuk menghajar dogma produksi massal yang dianggap sebagai kemajuan.
Di sekitar tahun yang sama, sebuah eksibisi psikogeografis diselenggarakan di Brussel oleh Walter Korun dan Guy Debord.
Bulan Mei 1957, Debord menulis apa yang selanjutnya menjadi sebuah
dokumen persiapan bagi konferensi yang diselenggarakan dua bulan
kemudian. Pamflet tersebut berjudul Laporan tentang Konstruksi
Situasi-Situasi dan tentang Kecenderungan Internasional Situasionis
dalam Organisasi dan Aksi yang dimulai dengan kalimat, “Pertama-tama
kita semua harus berpikir bahwa dunia ini mesti diubah,” lantas
disambung dengan sebuah analisa sejarah avant-garde, Futurisme, Dada dan
Surrealisme, menentukan latar belakang yang dapat didiskusikan dalam
tradisi tersebut.
Program surrealis, menegaskan keragaman hasrat dan kejutan, mengajukan
sebuah kegunaan baru atas hidup, yang jauh lebih kaya dalam
mengkonstruksi berbagai kemungkinan daripada yang dikira oleh umum [...]
tetapi errornya adalah [...] keyakinannya bahwa ketidaksadaran pada
akhirnya akan ditemukan oleh kekuatan kehidupan [...].
Menurut Debord, para avant-garde telah terhisap kembali ke dalam sistem
dominan dan kehilangan potensi mereka sebagai kekuatan revolusioner.
Debord mengingatkan kembali tentang penciptaan berbagai situasi, yang
dideskripsikan sebagai:
[...] konstruksi lengkap atas alunan-alunan hidup momenter dan transformasinya menuju sebuah kualitas superior yang penuh hasrat. Situasi-situasi yang menjadi kebalikan dari spectacle, bentuk hidup teralienasi yang merupakan hasil dari kapitalisme-lanjut. Makna spectacle akan dikembangkan dalam perioda-perioda SI selanjutnya.
Pamflet tersebut adalah sebuah panggilan untuk melakukan aksi kolektif.
Kita telah mengeliminasi sektarianisme di antara kita yang beroposisi
dengan aksi kesatuan dalam aliansi-aliansi yang mungkin bagi tercapainya
tujuan-tujuan khusus dan menghalangi infiltrasi organisasi-organisasi
paralel.
Dalam konferensi, Gallizio, Jorn, Olmo, Simondo dan Verrone
merepresentasikan IMIB, sementara Debord dan Michelle Bernstein
merepresentasikan LI. Ralph Rumney dari Inggris hadir dan diberi tahu
bahwa ia harus merepresentasikan sebuah grup apabila ia ingin
berpartisipasi dalam ‘unifikasi’ tersebut. London Psychogeographic
Association yang saat itu sama sekali belum terbentuk, dibentuk mendadak
di sana dan lantas juga semakin menegaskan terminologi ‘Internasional’
yang dicantumkan dalam grup unifikasi yang baru terbentuk tersebut, yang
bernama Situationist International.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar